JANGAN BERPRASANGKA BURUK
KEPADA ORANG LAIN
Jangan
Berprasangka Buruk Terhadap Orang Lain dan Jangan Pula Mendengarkan Ucapan
Orang Lain Dalam Keadaan Mereka Tidak Suka
Rasulullah SAW,
bersabda : “Sesungguhnya ada
orang yang secara lahiriah terlihat berbuat amal ahli surga, padahal ia ahli
neraka. Dan ada seseorang yang secara lahiriah ia berbuat amal ahli neraka,
padahal ia ahli surga. ” ( Bukhari & Muslim ).
kita tidak akan pernah
bisa menilai tentang sikap,kebiasaan atau kelakuan orang lain .'tidak berhak'
lebih tepatnya,karena kebenaran hanyalah milik ALLAH .lagipula ,bukankah
lebih indah bila hubungan kita sesama manusia bila kita warnai denagn sikap
saling percaya dan saling menyokong satu sama lain.
Berbagai prasangka
buruk terhadap orang lain memang sering kali bersemayam di hati kita. dan
ironisnya sebagian besar, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti
yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya sendiri.
Buruk sangka kepada
orang lain (su`udzon) mungkin biasa atau bahkan sering mampir di hati
kita. Yang parahnya lagi, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak
beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada
orang lain, lalu kita membiarkan hal tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan
kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain (jadi hobby kalee
ya??).
Padahal kita semua tahu bahwa hal yang bernama su`udzon,apalagi kepada sesama kaum muslim tanpa ada alasan/bukti merupakan hal yang sangat amat terlarang.
Padahal kita semua tahu bahwa hal yang bernama su`udzon,apalagi kepada sesama kaum muslim tanpa ada alasan/bukti merupakan hal yang sangat amat terlarang.
“Wahai orang-orang
yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena
sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (QS.Al-Hujurat:
12)
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. dalam hal ini , memang prasangka yang dibangun di atas tanda-tanda (Qarinah) yang menunjukkan bahwa hal yang di tuduhkan tersebut adalah benar ,tidaklah terlarang.
Hal itu merupakan
tabiat dasar manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat maka timbullah
zhannya, entah apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik (tuduhan tanpa
bukti yang menguatkan).
zhan
dinyatakan sebagai pembicaraan yang paling dusta.
Al-Hafizh Ibnu
Katsir rahimahullahu berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melarang
hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat
kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian
dari persangkaan itu adalah dosa yang murni, maka jauhilah kebanyakan dari
persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian.
Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab.RA, berkata,‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)
Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab.RA, berkata,‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)
Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah SAW: “Hati-hati kalian dari persangkaan yang
buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian
mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah
kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba
untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan
saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara
sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim
yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan
pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di
sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya.
“Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama
muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan
hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke
rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.”
(HR.Bukhari dan Muslim )
Zhan yang disebutkan
dalam hadits di atas dan juga di dalam ayat, adalah tuhmah (tuduhan). Zhan yang
diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah tanpa ada dasarnya. Seperti seseorang
yang dituduh berbuat zina atau dituduh minum khamr (mabuk-mabukan) padahal
tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan
tersebut kepada dirinya.
Dengan demikian, bila
tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak),maka hukumnya
haram ber-zhan (berprasangka) yang jelek.
ini saja tulisan yang dapat saya
buat,khususnya untuk mengingatkan diri saya agar tidak be-Zhan kepada orang
lain ,apalagi tanpa ada bukti yang dzahir ,semoga saya dilindungi oleh Allah
dari sifat Super Buruk tersebut.apabila saudara-saudara yang lain memiliki
masukan pendapat yang lain atau sebagai tambahan,saya sangat mengharapkan agar
kiranya saudara-saudaraku sudi untuk menambahkanya ,semoga bermanfa'at untuk
kita semua...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar